SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menggelar TEDxITS 2026 di Auditorium Gedung Pusat Riset ITS, Minggu (7/6). Mengusung tema Point of View, kegiatan ini mengajak generasi muda untuk melihat kehidupan, ilmu pengetahuan, dan perubahan sosial dari perspektif yang lebih luas guna membangun empati, kreativitas, dan keberanian dalam menghadapi tantangan masa depan.
Kepala Unit Komunikasi Publik (UKP) ITS, Ryan Adi Djauhari, S.I.Kom., M.I.Kom., mengatakan bahwa perbedaan sudut pandang merupakan hal yang wajar dalam kehidupan. Menurutnya, keberagaman cara pandang justru dapat menjadi ruang lahirnya inovasi dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap berbagai persoalan.
“Dunia tidak pernah benar-benar hitam putih. Perbedaan perspektif bukan untuk menentukan siapa yang paling benar, tetapi menjadi ruang lahirnya empati, simpati, dan inovasi. Cerdas tidak hanya soal akademik, tetapi juga tentang cara kita bersikap dan membuka pikiran,” ujarnya.
Salah satu pembicara yang menarik perhatian peserta adalah Raihan Raqilah Setiawan, S.T., M.T., atau yang dikenal sebagai Material Raqil. Melalui materi bertajuk Mindset Material, ia mengajak audiens memahami bahwa satu perspektif saja tidak cukup untuk melihat sesuatu secara utuh.
Menurut Raqil, karakter sebuah material tidak hanya ditentukan oleh bentuk luarnya, tetapi juga dipengaruhi oleh struktur, proses pengolahan, dan tujuan penggunaannya. Ia menilai prinsip yang sama juga berlaku dalam kehidupan manusia. “Yang lebih kuat tidak selalu lebih bagus karena setiap sifat punya nilai positif dan negatifnya masing-masing,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa seseorang tidak seharusnya dinilai hanya dari satu sisi. Seperti halnya material yang dapat berubah kualitasnya melalui proses pengolahan, manusia juga terus berkembang melalui pengalaman dan proses pembelajaran. “Jangan terlalu cepat menilai karena selalu ada perspektif lain yang perlu dilihat,” pesannya.
Sementara itu, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI periode 2014–2016, Sudirman Said, turut membagikan pengalamannya selama berkecimpung di dunia korporasi, gerakan sosial, dan pelayanan publik.
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa perjalanan hidup tidak selalu berjalan secara linier. Menurutnya, perubahan dan pertumbuhan sering kali lahir ketika seseorang berani keluar dari zona nyaman dan membuka diri terhadap perspektif baru. “Untuk bertumbuh, seseorang harus berani menerobos zona nyamannya,” tegasnya.
Selain kedua pembicara tersebut, TEDxITS 2026 juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang yang membahas manusia dan kehidupan dari beragam sudut pandang. Intan Fitri Hardyanti mengajak audiens melihat posisi di antara dua pilihan sebagai kesempatan untuk memahami dunia secara lebih luas. Ariq Naufal menyoroti pentingnya menyusun gagasan agar pesan yang disampaikan memiliki makna dan dampak yang lebih besar.
Di sisi lain, Diya Afi membahas kegagalan sebagai bagian penting dari proses belajar dan mengenal diri sendiri. Sementara Aeshnina Azzahra Aqilani mengajak generasi muda untuk lebih peka terhadap berbagai persoalan yang sering luput dari perhatian masyarakat.
Maheswara Yogha Putra Al-Araha juga membagikan perspektif mengenai rasa buntu yang sering muncul ketika seseorang memulai sesuatu dari target yang terlalu besar. Adapun Zeta Raniry Abidin membawakan materi mengenai ekspresi, warna, dan cara manusia memaknai berbagai hal tanpa selalu harus dijelaskan melalui kata-kata.
Melalui tema Point of View, TEDxITS 2026 menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa maupun masyarakat umum untuk memahami bahwa perubahan besar dapat berawal dari cara pandang yang berbeda. Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa ide tidak hanya perlu didengar, tetapi juga dipahami dari berbagai sisi agar mampu melahirkan empati, keberanian, dan langkah nyata dalam kehidupan sehari-hari. (feb, tama dini)












