SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Di tengah tekanan ekonomi global yang masih membayangi dunia usaha, Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya berupaya memperkuat daya tahan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) melalui pengembangan ekosistem kewirausahaan berbasis kolaborasi.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan Partnership Opportunities Dialogue yang sekaligus memperkenalkan program PETRA SEE (Social Entrepreneurship Ecosystem) sebagai wadah pendampingan bisnis berkelanjutan bagi UKM.
Kegiatan yang digelar Direktorat Pengembangan Usaha Sosial (DPUS) UK Petra di Gedung Radius Prawiro, tidak hanya mempertemukan pelaku usaha dengan berbagai mitra strategis, tetapi juga memberikan pembekalan bisnis serta coaching sebagai persiapan mengikuti HK Tech 300 Startup Competition di Hong Kong.
Direktur DPUS UK Petra, Dr. Pwee Leng, mengatakan kondisi ekonomi yang dipengaruhi fluktuasi nilai tukar, kenaikan biaya produksi, hingga ketidakpastian geopolitik membuat pelaku UKM tidak bisa lagi berkembang sendiri tanpa membangun jejaring dan kolaborasi.
“Forum ini dirancang khusus untuk membangun kolaborasi strategis dalam mengembangkan ekosistem usaha yang berdampak sosial, sehingga peserta dapat menjajaki berbagai peluang kemitraan bersama DPUS UK Petra,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, DPUS UK Petra juga memperkenalkan PETRA SEE (Social Entrepreneurship Ecosystem) yang menjadi program unggulan kampus dalam membangun ekosistem kewirausahaan sosial.
Berbeda dengan inkubator bisnis konvensional, PETRA SEE menghubungkan mahasiswa, dosen, alumni, investor, industri, Pemerintah Kota Surabaya, hingga masyarakat dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
Program tersebut memiliki empat fokus pengembangan, yakni Social Enterprise Merchandise Ecosystem, Beauty Ecosystem, Export House, serta Hobby Innovation & Venture Ecosystem yang dirancang untuk memperluas peluang usaha sekaligus meningkatkan daya saing pelaku bisnis lokal.
Selain membangun jejaring bisnis, peserta juga memperoleh wawasan mengenai strategi menghadapi ketidakpastian ekonomi global melalui seminar bertajuk “2026 Business Insight: Facing Geopolitical Uncertainty for Business Resilience and Growth” yang diselenggarakan bersama Continuing Education Center (CEC) UK Petra dan City University of Hong Kong (CityUHK).
Seminar menghadirkan sejumlah pembicara internasional, di antaranya Dr. Pwee Leng yang membahas strategi ketahanan bisnis lokal dan regional, Prof. Denvid Lau mengenai dinamika geopolitik global serta inisiatif strategis dunia usaha, serta Ms. Phoebe Tang yang memperkenalkan peluang pendanaan dan kompetisi HK Tech 300 di Hong Kong.
Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta juga mendapatkan sesi coaching mengenai inovasi bisnis dan aspek legalitas usaha. Pembinaan tersebut menjadi bagian dari proses seleksi bagi pelaku usaha Indonesia yang ingin mengikuti HK Tech 300 Startup Competition, di mana DPUS UK Petra dipercaya sebagai mitra resmi City University of Hong Kong untuk melakukan penjaringan peserta dari Indonesia.
Menurut Pwee Leng, pendampingan tersebut tidak hanya bertujuan mengantarkan pelaku usaha mengikuti kompetisi internasional, tetapi juga memperkuat fondasi bisnis agar mampu bertahan dalam jangka panjang.
“Melalui wadah seperti PETRA SEE dan kolaborasi global ini, DPUS UK Petra hadir sebagai mitra bertumbuh bagi UKM Indonesia untuk melewati masa-masa sulit. Selain membuka gerbang ke panggung dunia melalui kompetisi di Hong Kong, fokus utama kami adalah mendampingi mereka dari hulu ke hilir agar ekosistem bisnis lokal semakin berdampak, mandiri, dan berdaya saing tinggi,” tegasnya.
Melalui berbagai program tersebut, UK Petra berharap dapat memperkuat daya tahan UKM Indonesia sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak wirausaha yang mampu bersaing di tingkat internasional tanpa meninggalkan dampak sosial bagi masyarakat. (feb, tama dini)












