Peristiwa

Europe on Screen 2026 Hadirkan 55 Film dari 28 Negara Eropa, Perkuat Dukungan bagi Sineas Muda Indonesia

84
×

Europe on Screen 2026 Hadirkan 55 Film dari 28 Negara Eropa, Perkuat Dukungan bagi Sineas Muda Indonesia

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Festival Film Uni Eropa, Europe on Screen (EoS), kembali digelar pada 4–14 Juni 2026 dengan menghadirkan 55 film dari 28 negara Eropa yang dapat dinikmati secara gratis di delapan kota di Indonesia. Memasuki penyelenggaraan ke-26, festival ini terus memperkuat perannya sebagai ruang pertukaran budaya antara Eropa dan Indonesia melalui medium sinema.

Tahun ini, pemutaran film berlangsung di Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, Yogyakarta, Medan, Sidoarjo, dan Semarang. Selain menampilkan beragam karya sinema Eropa, festival juga menghadirkan program pengembangan sineas muda Indonesia, tamu internasional, serta sejumlah lokasi pemutaran baru.

Wakil Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Stéphane Mechati, mengatakan Europe on Screen tidak sekadar menjadi ajang pemutaran film, tetapi juga jembatan budaya yang mempertemukan perspektif dan pengalaman dari berbagai negara.

“Europe on Screen bukan sekadar ruang untuk menayangkan film-film Eropa. Festival ini adalah jembatan budaya yang mempertemukan perspektif dan pengalaman Eropa serta Indonesia melalui sinema,” ujarnya.

Menurutnya, sejak awal penyelenggaraan, Europe on Screen juga konsisten memberikan ruang bagi film pendek Indonesia yang kemudian berhasil menembus berbagai festival film internasional di Eropa. Ia menilai film memiliki kekuatan untuk membuka dialog, mempererat hubungan budaya, dan membangun pemahaman lintas negara melalui cerita-cerita yang relevan dan manusiawi.

Pada edisi tahun ini, festival menghadirkan karya dari 31 sutradara perempuan dan sembilan sineas debutan. Kehadiran mereka mencerminkan komitmen Europe on Screen terhadap keberagaman perspektif dan inklusivitas dalam industri perfilman.

Film pembuka festival adalah The Baronesses (Les Baronnes), drama komedi produksi Belgia, Prancis, dan Luksemburg yang mengisahkan sekelompok perempuan lanjut usia di Brussels yang berusaha kembali mengejar impian mereka melalui sebuah pertunjukan teater.

Sementara film penutup, Atlas of the Universe (Atlasul Universului), merupakan film coming-of-age produksi Rumania dan Bulgaria yang mengikuti perjalanan seorang anak laki-laki berusia 10 tahun mencari sepatu kirinya yang hilang. Kedua film tersebut telah memperoleh perhatian di berbagai festival internasional.

Festival Co-Director Europe on Screen 2026, Nauval Yazid, menuturkan bahwa pihaknya berupaya menghadirkan film-film yang tidak hanya menarik dari sisi cerita, tetapi juga kaya perspektif.

“Melalui EoS 2026, kami berusaha menghadirkan film-film inklusif, baik dari sisi tema, perspektif, maupun para pembuat filmnya. Tahun ini kami sangat senang tetap dapat menampilkan karya dari sutradara perempuan dan filmmaker debutan yang membawa suara-suara baru di sinema Eropa,” katanya.

Selain pemutaran film, Europe on Screen kembali menggelar Short Film Pitching Project (SFPP), program pendanaan dan pengembangan film pendek bagi sineas muda Indonesia. Pada tahun ini, SFPP menerima 202 proposal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Papua.

Festival Co-Director Europe on Screen 2026, Meninaputri Wismurti, menjelaskan bahwa SFPP telah memasuki tahun kesembilan dan menghasilkan puluhan film pendek yang sebagian besar berhasil menembus festival film nasional maupun internasional.

“Tahun ini program Short Film Pitching Project di EoS memasuki tahun ke-9, di mana 23 film pendek sudah berhasil diproduksi oleh ratusan kru film Indonesia dan sekitar 50 persen dari film-film tersebut berhasil terseleksi di festival film internasional,” ujarnya.

Sementara itu, aktris Indonesia Asmara Abigail yang menjadi salah satu juri SFPP menilai tema-tema yang diangkat peserta tahun ini semakin beragam. Banyak proposal mengangkat isu minoritas, identitas, kesehatan mental, hingga pengalaman personal sehari-hari yang dinilai penting bagi regenerasi sineas Indonesia.

Europe on Screen 2026 juga menghadirkan dua tamu internasional, yakni sutradara asal Irlandia Damian McCann dan aktris asal Siprus Zar Donato. Kehadiran keduanya diharapkan dapat membuka ruang diskusi langsung dengan penonton, komunitas film, serta pelaku industri kreatif Indonesia mengenai proses kreatif dan perkembangan sinema Eropa saat ini.

Untuk memperluas akses publik, penyelenggara juga menambah sejumlah lokasi pemutaran baru, di antaranya Alliance Française Semarang, Gedung Oudetrap Semarang, Bali Film School, Galeri Nasional, Komunitas Salihara, dan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta.

Dengan total 25 lokasi pemutaran di delapan kota, festival diharapkan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat sekaligus memperkuat kolaborasi dengan komunitas film dan institusi pendidikan.

Seluruh pemutaran film dalam Europe on Screen 2026 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Festival ini kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan sinema berkualitas sekaligus memperkuat hubungan budaya antara Indonesia dan negara-negara Eropa melalui film. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *