SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Pesatnya perkembangan layanan digital mendorong kebutuhan akan sistem komunikasi multimedia yang mampu mengirimkan data dalam jumlah besar secara cepat sekaligus aman.
Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar ke-246 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Suwadi, M.T., mengembangkan metode komunikasi multimedia yang mengintegrasikan teknologi kompresi data, proteksi konten digital, dan keamanan berbasis perangkat keras untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat perlindungan terhadap ancaman siber.
Menurut Suwadi, sistem komunikasi multimedia kini menjadi tulang punggung berbagai layanan digital karena mampu mengakomodasi pengiriman beragam jenis data, mulai dari teks, audio, gambar, hingga video. Namun, meningkatnya volume data juga menuntut sistem transmisi yang semakin efisien agar kualitas layanan tetap terjaga.
“Semakin besar kebutuhan pertukaran data digital, maka teknik kompresi, sinkronisasi, dan protokol komunikasi yang tepat menjadi sangat penting agar sistem tetap mampu bekerja secara optimal,” ujarnya.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Suwadi mengintegrasikan tiga bidang utama, yakni pengolahan konten multimedia, teknologi transmisi data, serta pengembangan sistem komunikasi.
Integrasi tersebut menghasilkan sebuah metode yang menggabungkan kompresi cerdas, proteksi konten digital, dan kriptografi fisik dalam satu sistem komunikasi multimedia. “Inovasi ini kami kembangkan untuk membangun sistem komunikasi multimedia yang lebih efisien, aman, dan tangguh menghadapi perkembangan kebutuhan teknologi digital,” katanya.
Suwadi menjelaskan, inovasi pertama berupa kompresi cerdas berfungsi meningkatkan efisiensi penggunaan bandwidth atau kapasitas jalur komunikasi. Teknologi ini mampu memperkecil ukuran data multimedia secara signifikan tanpa mengurangi kualitas informasi penting yang terkandung di dalamnya.
Kemampuan tersebut dinilai penting karena lalu lintas data digital terus meningkat, baik pada layanan video, konferensi daring, penyimpanan awan (cloud), maupun berbagai layanan berbasis internet lainnya.
Selain efisiensi transmisi, penelitian tersebut juga menghadirkan teknologi proteksi konten digital yang dirancang menjaga integritas informasi. Melalui sistem penyandian dan penandaan digital, metode tersebut mampu melindungi keaslian dokumen elektronik sekaligus meminimalkan risiko pemalsuan maupun manipulasi data di ruang siber.
Menurut Suwadi, perlindungan terhadap data digital menjadi semakin penting karena informasi kini telah menjadi aset strategis, baik bagi pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat.
Lapisan perlindungan berikutnya diwujudkan melalui penerapan kriptografi fisik, yaitu teknologi keamanan yang memanfaatkan karakteristik unik perangkat keras untuk menghasilkan kunci enkripsi yang sulit dipalsukan maupun diretas. “Dengan pendekatan ini, sistem komunikasi memperoleh lapisan keamanan tambahan sehingga lebih siap menghadapi ancaman serangan siber yang semakin kompleks,” jelasnya.
Ia menambahkan, integrasi ketiga teknologi tersebut memiliki potensi penerapan yang luas, salah satunya pada sektor pemerintahan dalam mendukung implementasi Smart Government atau Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
Melalui sistem komunikasi yang lebih efisien dan aman, proses pertukaran data antarlembaga diharapkan dapat berlangsung lebih cepat dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi, sekaligus memperkuat perlindungan terhadap data strategis negara.
Selain itu, teknologi tersebut juga berpotensi mendukung pemerataan layanan komunikasi multimedia hingga ke berbagai daerah sehingga akses terhadap layanan digital dapat dinikmati masyarakat secara lebih luas.
Meski demikian, Suwadi menegaskan pengembangan sistem komunikasi tidak dapat dilakukan hanya melalui inovasi perangkat keras maupun perangkat lunak semata. Kolaborasi lintas disiplin ilmu, industri, pemerintah, serta perguruan tinggi menjadi faktor penting agar teknologi komunikasi mampu terus berkembang mengikuti dinamika ancaman siber dan kebutuhan masyarakat.
“Potensi pengembangan sistem komunikasi yang lebih aman masih sangat terbuka. Karena itu diperlukan penelitian yang dilakukan secara berkelanjutan agar teknologi yang dihasilkan selalu relevan dengan tantangan masa depan,” tegas Kepala Kantor Audit Internal (KAI) ITS tersebut.
Melalui penelitian ini, ITS terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan infrastruktur digital nasional sekaligus mendukung pembangunan sistem komunikasi yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan. Inovasi tersebut juga sejalan dengan upaya mendorong transformasi digital di berbagai sektor melalui penguatan riset dan pengembangan teknologi komunikasi di Indonesia. (feb, tama dini)












