SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Universitas Kristen (UK) Petra bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Genarta memperkenalkan Cantikyu, edukit batik ramah lingkungan berbahan limbah kertas dan kayu, kepada puluhan anak di Kampung Dolly, Surabaya.
Kegiatan yang digelar dalam rangka Hari Anak Nasional tersebut menjadi bagian dari uji publik produk Hilirisasi Sinergi 2026 sekaligus mengajak anak-anak mengenal budaya batik melalui pendekatan kreatif dan berkelanjutan.
Sebanyak 40 anak mengikuti kegiatan membatik di Pasar Burung Dolly, RW 12 Kelurahan Putat Jaya. Mereka tidak langsung membatik di atas kain, tetapi terlebih dahulu menyusun canting cap dari limbah kertas dan kayu sebagai media pembelajaran. Melalui proses tersebut, peserta diajak memahami pentingnya kreativitas, ketelitian, serta pemanfaatan kembali material yang memiliki nilai guna.
Ketua tim pengabdian UK Petra, Dr. Aniendya Christianna, mengatakan edukit tersebut dirancang tidak hanya untuk mengenalkan seni membatik, tetapi juga sebagai media pembelajaran karakter.
“Edukit ini dirancang sebagai alat peraga pembelajaran moral, etika, dan seni budaya bagi anak, orang tua, maupun guru. Berbeda dengan kegiatan membatik pada umumnya, pada hari ini anak-anak tidak langsung memegang kain atau kuas pewarna. Mereka justru diajak memahami bahwa sebuah karya lahir dari proses yang membutuhkan ketelatenan,” jelasnya.
Setelah menyusun canting, anak-anak melanjutkan proses mengecap, mewarnai kain, hingga tahap nglorot atau pelepasan lilin untuk menampilkan motif batik. Kegiatan berlangsung interaktif, dengan peserta bebas bereksplorasi menciptakan motif dan kombinasi warna sesuai kreativitas masing-masing.
Bagi masyarakat Kampung Dolly, kegiatan tersebut dinilai memberi manfaat dalam mengenalkan kembali warisan budaya kepada generasi muda. Salah satu orang tua peserta, Lilik Anani, menilai pengalaman membatik secara langsung menjadi cara efektif untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap budaya Indonesia.
“Sangat bermanfaat karena mengajak anak-anak kembali ke budaya batik. Di era sekarang, anak-anak rawan lupa dengan warisan budaya kalau tidak dikenalkan secara langsung,” ujarnya.
Melalui pengembangan Cantikyu, UK Petra dan KUB Genarta berharap edukasi membatik tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menanamkan nilai kreativitas, kesabaran, serta kepedulian terhadap lingkungan melalui pemanfaatan limbah sebagai media pembelajaran. (feb, tama dini)












