SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Ketimpangan jumlah pengasuh dan anak di panti asuhan dinilai dapat memengaruhi perkembangan kognitif balita. Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang konsep interior panti asuhan berbasis open-ended play environment untuk mendorong kreativitas sekaligus kemandirian anak usia dini.
Rancangan tersebut dikembangkan oleh mahasiswa Departemen Desain Interior ITS, Hartaji Ramzani. Gagasannya lahir setelah mengamati kondisi Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Balita Tunas Bangsa di Jakarta yang memiliki rasio pengasuh dan anak mencapai 1:6, lebih tinggi dibanding rasio ideal 1:4. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif balita.
Untuk membantu mengatasi keterbatasan pendampingan, Aji—sapaan akrab Hartaji Ramzani—menghadirkan lingkungan bermain tanpa aturan kaku (open-ended play environment).
Konsep tersebut diwujudkan melalui fasilitas interaktif seperti pegboard toy pada dinding serta furnitur fleksibel yang dapat disusun ulang sesuai kebutuhan, sehingga anak terdorong belajar secara mandiri melalui aktivitas bermain. “Ruang ini mengajak anak belajar mandiri melalui pengalaman bermain,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rancangan tersebut difokuskan untuk melatih tiga aspek utama kreativitas balita, yakni openness, creative abilities, dan independence, melalui ruang eksplorasi yang lebih bebas dan sarana bermain yang bersifat multifungsi.
Dari sisi desain, interior mengusung pola segitiga dan belah ketupat yang merepresentasikan bentuk atap rumah. Seluruh sudut furnitur dibuat tumpul dengan tinggi maksimal satu meter untuk meningkatkan keamanan anak, sementara pemilihan warna lembut seperti hijau dan merah muda disesuaikan dengan aktivitas motorik di setiap ruang.
Rancangan tersebut dikembangkan di bawah bimbingan dosen Ajeng Kusumadewi Putri Jatmiko dan Yaritsa Husni Sabiela dengan fokus pada desain yang inklusif, aman, serta mampu menjawab persoalan sosial.
Menurut Aji, inovasi tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan kehidupan sehat, pendidikan berkualitas, dan pengurangan kesenjangan melalui penyediaan ruang yang mendukung tumbuh kembang anak di panti asuhan. (feb, tama dini)












