Peristiwa

Pakar ITS Bagikan Cara Lindungi Perangkat Elektronik saat Pemadaman Listrik Bergilir

23
×

Pakar ITS Bagikan Cara Lindungi Perangkat Elektronik saat Pemadaman Listrik Bergilir

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah daerah belakangan ini memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap keamanan perangkat elektronik di rumah. Menanggapi kondisi tersebut, dosen Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dedet Candra Riawan ST MEng PhD, membagikan sejumlah langkah preventif yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko kerusakan perangkat elektronik akibat fluktuasi listrik.

Menurutnya, sebagian besar perangkat elektronik rumah tangga modern menggunakan rangkaian sirkuit elektronik yang sangat sensitif terhadap perubahan tegangan listrik. Ketika listrik mati dan menyala berulang kali dalam waktu singkat, komponen elektronik akan mengalami stress voltage atau tegangan berlebih yang dapat mempercepat penurunan performa bahkan memicu kerusakan. “Meski setiap elektronik dirancang memiliki ambang batas ketahanan tertentu, tetap ada titik kerentanan jika dihadapi dengan transisi drastis secara masif,” ujarnya.

Dedet menjelaskan, secara umum terdapat dua jenis kerugian yang ditimbulkan akibat pemadaman listrik. Pertama, kerusakan fisik pada perangkat elektronik akibat lonjakan maupun ketidakstabilan tegangan. Kedua, kegagalan proses yang berdampak pada hilangnya pekerjaan yang sedang berlangsung, terutama pada sektor industri maupun usaha yang mengandalkan proses komputasi secara berkelanjutan.

Menurutnya, gangguan listrik yang hanya berlangsung satu hingga dua detik sekalipun sudah cukup menghentikan proses komputasi sehingga sistem harus memulai kembali dari awal. “Kedipan listrik selama satu detik saja cukup untuk memutus seluruh algoritma kerja dan memaksa sistem mengulang proses dari titik nol,” jelas mantan Kepala Departemen Teknik Elektro ITS tersebut.

Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan generator set (genset) tidak selalu menjamin kualitas pasokan listrik yang stabil. Berbeda dengan jaringan listrik PLN yang memiliki standar toleransi tegangan ketat, genset berkapasitas kecil yang umum digunakan pelaku usaha maupun rumah tangga memiliki keterbatasan dalam mengatur tegangan dan frekuensi listrik.

Akibatnya, lonjakan maupun penurunan tegangan dari genset dapat memengaruhi performa bahkan mempercepat kerusakan perangkat elektronik. “Lonjakan daya pada genset akan mengalami ketidakstabilan tegangan dan frekuensi yang juga memengaruhi performa barang elektronik yang dialiri daya tersebut,” katanya.

Untuk mengurangi risiko kerusakan, Dedet membagikan beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan masyarakat. Pada perangkat dengan motor induksi non-inverter seperti kulkas model lama dan pompa air, pengguna disarankan segera mencabut kabel listrik ketika terjadi pemadaman mendadak.

Perangkat jenis ini membutuhkan arus awal yang sangat besar saat dinyalakan kembali sehingga lebih rentan mengalami kerusakan apabila listrik kembali menyala dalam kondisi belum stabil. Sementara untuk AC non-inverter, pengguna sebaiknya mematikan perangkat menggunakan remote terlebih dahulu, kemudian mencabut steker apabila jadwal pemadaman telah diketahui.

Setelah listrik kembali normal, tunggu sekitar lima hingga sepuluh menit sebelum menghubungkan kembali perangkat ke sumber listrik. Dedet mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru langsung menyalakan AC setelah listrik kembali menyala.

“Jika kompresor AC langsung terpicu menyala detik itu juga, ia seperti dipaksa berlari kencang saat baru bangun tidur,” jelasnya. Berbeda dengan perangkat konvensional, AC berteknologi inverter umumnya telah dilengkapi sistem perlindungan otomatis sehingga cukup dimatikan melalui remote tanpa harus mencabut kabel listrik. Teknologi tersebut telah dirancang untuk meredam gangguan akibat perubahan suplai daya secara otomatis.

Di sektor usaha yang membutuhkan kontinuitas operasional, Dedet menyarankan penggunaan sistem cadangan listrik sesuai kebutuhan. Ia membedakan antara backup standby, yaitu genset yang baru bekerja setelah listrik PLN padam, dengan backup running seperti Online UPS yang mampu menyediakan pasokan listrik tanpa jeda (zero downtime).

Menutup penjelasannya, Dedet menekankan bahwa menjaga perangkat elektronik tetap awet tidak selalu membutuhkan peralatan mahal seperti stabilizer. Yang terpenting adalah memahami karakteristik masing-masing perangkat dan menerapkan langkah pencegahan sederhana ketika terjadi pemadaman listrik. “Teknologi memang dirancang makin cerdas, tetapi pada akhirnya sebuah gerakan manual sederhana tetap menjadi pelindung terbaik,” pungkasnya.

Selain membantu melindungi aset elektronik masyarakat, langkah-langkah preventif tersebut juga mendukung implementasi Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-7 tentang energi bersih dan terjangkau, tujuan ke-11 mengenai kota dan permukiman berkelanjutan, serta tujuan ke-3 terkait kehidupan yang sehat dan sejahtera melalui penggunaan energi yang lebih efisien dan bertanggung jawab. (Feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *