Peristiwa

Profesor ITS Gagas Integrasi Sistem Navigasi untuk Tingkatkan Keselamatan Pelayaran Nasional

58
×

Profesor ITS Gagas Integrasi Sistem Navigasi untuk Tingkatkan Keselamatan Pelayaran Nasional

Sebarkan artikel ini

SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Tingginya angka kecelakaan kapal di Indonesia mendorong perlunya sistem keselamatan pelayaran yang lebih adaptif. Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar ke-244 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Eng. Muhammad Badrus Zaman ST MT, menggagas integrasi teknologi navigasi kapal dengan faktor manusia untuk meningkatkan keselamatan pelayaran nasional.

Menurut Prof. Badrus, kecelakaan kapal tidak hanya dipengaruhi kondisi teknis kapal, tetapi juga faktor manusia yang hingga kini masih menjadi penyebab dominan berbagai insiden pelayaran. “Penguatan keselamatan navigasi tidak hanya dilakukan melalui perangkat teknologi, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan dan pengambilan keputusan kru kapal,” ujarnya.

Konsep tersebut dipaparkan dalam orasi ilmiah bertajuk Sistem Keselamatan Navigasi Kapal sebagai Pilar untuk Memperkuat Poros Maritim Nasional dan Global. Melalui penelitian tersebut, Prof. Badrus mengembangkan sistem yang mengintegrasikan perangkat navigasi dengan kemampuan awak kapal dalam menganalisis risiko di laut.

Ia menjelaskan, selama ini perangkat navigasi umumnya hanya berfungsi sebagai alat pemantau posisi kapal. Padahal, sistem tersebut dapat dikembangkan menjadi perangkat pendukung pengambilan keputusan sehingga nahkoda dan kru mampu merespons potensi bahaya secara lebih cepat dan akurat.

Untuk mewujudkannya, tim peneliti memanfaatkan Automatic Identification System (AIS) yang mampu memantau pergerakan lalu lintas kapal secara real-time. Data tersebut kemudian dipadukan dengan model M-SHEL, yakni metode analisis yang mengevaluasi hubungan antara manusia dengan berbagai komponen sistem, meliputi manajemen, perangkat lunak, perangkat keras, lingkungan, dan awak kapal.

Melalui integrasi kedua sistem tersebut, penelitian menghasilkan pemetaan tingkat risiko tabrakan kapal yang diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Selain itu, sistem juga mampu memberikan rekomendasi tindakan keselamatan berbasis data yang dapat langsung dimanfaatkan oleh nahkoda saat menghadapi kondisi pelayaran tertentu. “Rekayasa sistem ini memberikan panduan berbasis data kepada kru dalam merespons situasi pelayaran,” jelas profesor bidang Sistem Keselamatan Navigasi Kapal tersebut.

Prof. Badrus menuturkan bahwa pengembangan teknologi tersebut tidak dilakukan secara mandiri. Risetnya telah melibatkan berbagai institusi internasional, di antaranya Kobe University Jepang, Universiti Teknologi Malaysia, dan Wismar University of Applied Sciences Jerman. Di tingkat nasional, penelitian juga dilakukan melalui kolaborasi dengan Kementerian Perhubungan RI serta Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Menurutnya, kolaborasi lintas lembaga menjadi faktor penting agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai kajian akademik, melainkan dapat diterapkan dalam sistem keselamatan pelayaran nasional. “Kolaborasi yang berkelanjutan diperlukan agar riset keselamatan navigasi ini dapat diimplementasikan secara nyata untuk kemajuan maritim Indonesia,” tegasnya.

Pengembangan sistem keselamatan navigasi tersebut sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur serta tujuan ke-14 mengenai pelestarian ekosistem laut. Melalui pemanfaatan teknologi dan pendekatan berbasis faktor manusia, ITS terus berkontribusi menghadirkan inovasi untuk memperkuat keselamatan transportasi laut sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *