SURABAYA (Suarapubliknews) ~ Karya-karya Gombloh kembali bergema di Kota Pahlawan. Komunitas Memories of Gombloh (Mogers) menggelar acara bertajuk “Gombloh Bukan Hanya di Radio” sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidup, karya, dan nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan musisi legendaris asal Surabaya tersebut.
Kegiatan berlangsung di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya, pada 7–9 Juli 2026, menghadirkan pameran foto, pertunjukan musik, hingga reuni personel band Lemon Tree’s anno ’69 yang telah vakum selama 38 tahun.
Ketua Panitia, Esthi Susanti Hudiono, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk menjaga semangat dan pemikiran Gombloh agar tetap hidup di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.
“Sebagai idola, ia patut terus dikenang. Lagu-lagu Gombloh memiliki satu garis yang konsisten. Tidak hanya berbicara tentang individu, tetapi juga bangsa, lingkungan, sosial, hingga hubungan manusia dengan Tuhan,” ujarnya.
Menurut Esthi, karya-karya Gombloh memiliki kekuatan membangun karakter sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air. Nilai-nilai tersebut menjadi alasan mengapa lagu-lagunya tetap relevan lintas generasi, termasuk karya ikonik Kebyar-Kebyar yang hingga kini kerap dianggap sebagai lagu nasional kedua setelah Indonesia Raya.
Sementara itu, Ketua Mogers, Affandy Willy Yusuf, menjelaskan tema “Gombloh Bukan Hanya di Radio” dipilih untuk menunjukkan bahwa sosok Gombloh tidak hanya dikenang melalui lagu-lagunya, tetapi juga melalui kiprahnya sebagai seniman yang dekat dengan masyarakat dan aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan.
“Gombloh membangun jiwa manusia. Ia tidak hanya berkarya, tetapi juga turun langsung melakukan kerja kemanusiaan di berbagai tempat, membaur dengan siapa saja, serta menanamkan semangat cinta tanah air,” katanya.
Salah satu daya tarik utama kegiatan ini adalah pameran foto bertajuk Sasana Shanti Antropologi yang menampilkan puluhan dokumentasi perjalanan hidup Gombloh, mulai dari aktivitas bermusik, kehidupan sehari-hari, hingga prosesi pemakamannya pada 9 Januari 1988.
Penulis buku “Gombloh: Revolusi Cinta dari Surabaya”, Guruh Dimas Nugraha, menjelaskan bahwa nama pameran diambil dari salah satu lagu karya Gombloh yang menggambarkan imajinasi tentang dunia satu juta tahun mendatang.
“Lagu itu berbicara mengenai sebuah museum yang menyimpan peninggalan dan fosil manusia. Kami melihat Gombloh juga meninggalkan jejak yang layak dikenang melalui karya-karyanya dan dokumentasi kehidupannya,” ujarnya.
Selain pameran, pengunjung juga akan disuguhi momen bersejarah berupa reuni Lemon Tree’s anno ’69, band yang pernah menjadi bagian penting perjalanan musikal Gombloh. Setelah vakum sejak 1988, lima personel lama, yakni Soelih Estopangestie, Ratih Sumarsono, Pardi Artin, Totok Afiat, dan Mamat Bahasuan, kembali tampil bersama membawakan lagu-lagu Gombloh dari masa awal kariernya saat masih berada di bawah label Golden Hand Records.
“Sudah 38 tahun kami tidak berada dalam satu band. Saat kembali berlatih dan memainkan lagu-lagu lama, rasanya sangat mengharukan karena kami selalu mengingat Gombloh sebagai sahabat,” ungkap Soelih.
Selama tiga hari penyelenggaraan, acara juga dimeriahkan berbagai penampilan seni dan budaya, di antaranya Ludruk Luntas, Seketastakula, Sekaring Jagad, Max Baihaqi, Cep Ocim, Simpang Musim, Yuli Zedeng, Laily & Family, Jumadi Candu Aksara Grobogan, Indrie & Untung, Arul Lamandau, serta sejumlah musisi dan seniman lainnya.
Tidak hanya menjadi ajang mengenang seorang musisi, kegiatan ini juga membawa misi budaya. Panitia bersama Mogers mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk mengubah nama Balai Budaya di kawasan Balai Pemuda menjadi Gedung Lokaseni Gombloh sebagai bentuk penghormatan terhadap kontribusi Gombloh bagi perkembangan seni di Kota Surabaya.
Heri Lentho, yang bertindak sebagai supervisi kepanitiaan, mengatakan usulan tersebut didasarkan pada sejarah Gombloh yang pernah menjalani proses kreatif di Balai Budaya saat bergabung dengan Bengkel Muda Surabaya. “Tempat itu memiliki ikatan sejarah dengan perjalanan kreatif Gombloh. Sudah selayaknya Surabaya memberikan penghargaan kepada salah satu ikon seninya,” ujarnya.
Melalui Gombloh Bukan Hanya di Radio, panitia berharap masyarakat tidak hanya mengenang Gombloh sebagai pencipta lagu-lagu legendaris, tetapi juga memahami nilai-nilai kemanusiaan, nasionalisme, dan kecintaannya terhadap Surabaya yang terus hidup melalui karya-karyanya. (feb, tama dini)












