Apindo Jatim, Target 20 Perusahaan Go Public di 2019

SURABAYA (Suarapubliknews) – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Timur mendorong perusahaan untuk bisa menjadi perusahaan terbuka atau go public. Setidaknya ada 300 perusahaan di Jatim berpotensi go public.

Sekretaris Apindo Jatim, Dwi Ken Hendrawanto mengatakan sampai saat ini ada 1.200 perusahaan anggota Apindo Jatim namun baru 38 yang menjadi perusahaan terbuka. “Padahal potensinya luar biasa. Kita melihat ada sekitar 300 perusahaan yang berpotensi go public,” katanya.

Dari 300 perusahaan itu, diakui Dwi Ken berasal dari berbagai macam sektor usaha, terutama industri mulai manufaktur hingga perikanan. Apalagi saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendukung penuh dunia usaha untuk maju dan berkembang.

“Walau tahun ini, tahun politik tapi kita tetap optimis. Dan kita berharap pemilu kita berjalan lancar. Sehingga ada kepastian bagi pengusaha untuk bisa melakukan ekspansi dan berkembang,” lanjut Dwi Ken.

Diakui tidak mudah untuk mengajak perusahaan menuju ke arah sana, butuh waktu untuk hal itu. Setidaknya hingga akhir 2019 ini jumlah emiten Jawa Timur bisa bertambah menjadi 50 perusahaan, sudah menjadi prestasi yang luar biasa. Bisa menambah 20 dari sebelumnya 38.

Kepala Perwakilan Pusat Informasi Go Public Bursa Efek Indonesia (BEI) Surabaya, Dewi Sriana juga mengakui bahwa banyak kendala mengajak perusahaan di Jawa Timur untuk go public.

“Ibaratnya kita mengetuk pintu saja sulit. Bukan serta merta mengajak mereka jadi perusahaan terbuka, tapi setidaknya kami ingin melakukan pengenalan. Apa sih pentingnya menyandang status Tbk di belakang nama perusahaan,” paparnya.

Di Jatim banyak perusahaan keluarga. Sehingga butuh pertimbangan matang sebelum memutuskannya menjadi perusahaan terbuka. Namun, sebenarnya bagi perusahaan keluarga khususnya, menjadi perusahaan terbuka justru lebih menguntungkan ke depannya.

Karena menjadi perusahaan terbuka bukan hanya masalah permodalan, namun menyandang status Tbk itu akan menjadi sebuah gengsi tersendiri bagi perusahaan. Selain itu bisa mempertahankan eksistensi perusahaan hingga di generasi selanjutnya.

“Biasanya kalau perusahaan keluarga akan eksis di generasi pertama dan kedua, namun begitu masuk geenrasi ketiga mulai goyah karena ada yang bersedia dan tidak meneruskannya. Dengan menjadi perusahaan terbuka, sudah jelas hitung-hitungannya kalau ada misalnya keturunan yang tidak bersedia meneruskan. Ada hal-hal strategis yang berguna bagi perusahaan agar tetap eksis,” tutup Sriana. (q cox, Tama Dinie)

Reply