Hotel & RestoJatim Raya

Kolaborasi Lintas Sektor di Malang Raya Ubah Limbah Makanan Hotel Menjadi Pakan Ternak

78
×

Kolaborasi Lintas Sektor di Malang Raya Ubah Limbah Makanan Hotel Menjadi Pakan Ternak

Sebarkan artikel ini

MALANG (Suarapubliknews) ~ Industri perhotelan di Jawa Timur mulai menunjukkan langkah nyata dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Grand Mercure Malang Mirama bersama Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Local Preneur, dan People Hub meluncurkan gerakan bertajuk Beyond Waste yang berfokus pada pengolahan limbah makanan menjadi produk bernilai guna sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Program yang diluncurkan pada 4 Juni 2026 tersebut mengusung semangat ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah organik yang selama ini kerap dianggap tidak memiliki nilai. Melalui kolaborasi lintas sektor, inisiatif ini diharapkan mampu mendorong perubahan pola pikir bahwa limbah dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan maupun perekonomian masyarakat.

Cluster General Manager Grand Mercure Malang Mirama dan Mercure Surabaya Grand Mirama, Sugito Adhi, menegaskan bahwa Beyond Waste bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam menerapkan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).

“Beyond Waste diharapkan menjadi awal dari gerakan sustainability yang dapat diterapkan secara nyata. Kami tidak hanya mengelola limbah, kami sedang membangun warisan tanggung jawab untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Menurut Sugito, gerakan tersebut juga membuka peluang ekonomi baru. Limbah makanan yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, termasuk pakan ternak dan pupuk organik.

“Gerakan ini bukan hanya tentang pengurangan limbah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Dari pengolahan food waste, masyarakat bisa menciptakan lapangan kerja baru, sementara industri dapat membangun kemandirian material melalui pemanfaatan sumber daya yang selama ini terbuang,” katanya.

Komitmen tersebut telah diterapkan Grand Mercure Malang Mirama sejak hotel mulai beroperasi pada 2021. Operational Manager Grand Mercure Malang Mirama, Wahyu Widianto, menjelaskan bahwa pengelolaan limbah makanan dilakukan secara ketat sesuai standar jaringan hotel Accor.

Ia mengungkapkan bahwa volume limbah makanan di hotel sangat bergantung pada tingkat hunian, dengan sumber terbesar berasal dari layanan sarapan. “Jika kuota sarapan berada di angka 250, sampah yang dihasilkan berkisar antara 8 hingga 10 kilogram. Namun saat hunian melonjak hingga 400 atau 500, volume sampah makanan ikut naik ke angka 13 sampai 15 kilogram,” jelasnya.

Untuk menekan jumlah limbah, hotel menerapkan berbagai langkah pengelolaan ulang. Roti yang tidak habis terjual diolah kembali menjadi hidangan penutup khas Timur Tengah, Om Ali, sedangkan stroberi yang bentuknya kurang sempurna namun masih layak konsumsi diproses menjadi selai. Adapun limbah makanan yang tidak dapat dikonsumsi lagi dimanfaatkan sebagai bahan kompos dan pakan ternak.

Founder Local Preneur, Baskoro, menilai transformasi menuju bisnis yang lebih ramah lingkungan perlu menjadi perhatian seluruh pelaku usaha. “Kami mendukung penuh para pelaku industri untuk mulai memperhatikan dampak lingkungan di sekitarnya. Langkah yang diambil tidak harus selalu muluk-muluk, melainkan apa yang bisa dilakukan saat ini, sekecil apa pun itu,” ujarnya.

Menurut Baskoro, dunia usaha masa depan tidak hanya berbicara mengenai keuntungan semata, tetapi juga harus memberikan kontribusi nyata terhadap kelestarian lingkungan.

Dari kalangan akademisi, Dosen Fakultas Peternakan Unikama, Dr. Ir. Tri Ida Wahyu Kustyorini, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng., mengingatkan bahwa limbah makanan yang tidak dikelola dengan baik dapat meningkatkan pencemaran lingkungan dan emisi gas rumah kaca.

“Limbah restoran maupun rumah tangga jika tidak dimanfaatkan justru akan menambah cemaran serta meningkatkan emisi gas rumah kaca yang dapat mengganggu dan merusak lapisan atmosfer,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa limbah organik memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan menjadi pakan ternak maupun pupuk pertanian yang bernilai ekonomis. “Pemanfaatan limbah yang tadinya tidak memiliki nilai guna, jika kita olah dengan baik, akan memberikan nilai ekonomis tinggi yang justru menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat maupun pelaku industri itu sendiri,” tambahnya.

Peluncuran Beyond Waste melibatkan sekitar 50 peserta yang berasal dari industri perhotelan, pelaku UMKM kuliner, akademisi, hingga organisasi non-pemerintah. Kegiatan tersebut diisi dengan pemaparan komitmen ESG, diskusi mengenai keberlanjutan, presentasi persoalan limbah makanan, serta demonstrasi pengolahan limbah menjadi pakan ternak bersama peternak lokal.

Mengusung visi “Building a Sustainable Future, One Waste at a Time”, gerakan ini menargetkan peningkatan kesadaran masyarakat hingga 95 persen serta pengurangan limbah makanan mencapai 80 persen. Inisiatif tersebut juga diharapkan dapat mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, poin 13 tentang penanganan perubahan iklim, serta poin 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan. (feb, tama dini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *